Wednesday, July 17, 2013
Sunday, October 21, 2012
Izin Mendirikan Bangunan
TATA CARA PEMBERIAN IZIN MENDIRIKAN
BANGUNAN
|
Untuk mendapatkan Izin Mendirikan
Bangunan, pemohon mengajukan permohonan kepada Walikota melalui Kepala Kantor
Pelayanan Perizinan dengan mengisi formulir yang telah disiapkan Kantor
Pelayanan Perizinan dengan melampirkan persyaratan administrasi sebagai berikut
|
|
|
a.
|
Foto copy Kartu Tanda Penduduk
(KTP) pemohon yang berlaku.
|
|
b.
|
Foto copy surat bukti
pemilikan/penguasaan tanah ;
|
|
c.
|
Foto copy lunas Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB) tahun berjalan;
|
|
d.
|
Surat pernyataan tidak keberatan
dari tetangga ;
|
|
e.
|
Surat pernyataan pemohon bahwa
lokasi/tanah tidak dalam keadaan sengketa dan diketahui Luran dan Camat
setempat ;
|
|
f.
|
Gambar rencana bangunan dan
perhitungan konstruksi 5 (lima) rangkap dengan melampirkan Surat Izin
Perencana Bangunan (SIPB)
|
|
g.
|
Pas foto ukuran 3 x 4 cm sbanyak 2
lembar.
|
|
|
|
|
Kantor Pelayanan Perizinan
melakukan penelitian berkas atau persyaratan pemohon sebagaimana dimaksud dan
apabila telah memenuhi persyaratan, maka Kantor Pelayanan Perizinan paling
lambat 2 (dua) hari setelah menerima berkas pemohon melanjutkan berkas
permohonan kepada Dinas Tata Bangunan untuk mendapatkan rekomendasi dengan
menggunakan format yang disediakan oleh Kantor Pelayanan Perizinan.
|
|
|
|
|
|
Sebelum mengeluarkan rekomendasi
sebagaimana dimaksud, Dinas Tata bangunan melakukan peninjauan lapangan
dengan memperhatikan syarat – syarat tehnis antara lain :
|
|
|
a.
|
Persyaratan Arsitektur :
|
|
1.
|
Situasi tata letak bangunan;
|
|
2.
|
Garis Sempadan Pagar (GSP) dan
Garis Sempadan Bangunan (GSB);
|
|
3.
|
Bentuk ukuran dan perlengkapan
ruang yang memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan umum;
|
|
4.
|
Tata ruang luar termasuk saluran
pembuangan,peresapan air hujan dan jalan/jembatan;
|
|
5.
|
Prosentase luas lantai dan
terhadap persil/pekarangan berdasarkan kepentingan kesehatan,lingkungan dan
pencegahan kebakaran ;
|
|
6.
|
Mencegah gangguan pandangan lalu
lintas,keamanan dan keselamatan umum dan pencemaran lingkungan ;
|
|
7.
|
Petunjuk persyaratan khusus
menurut klasifikasi penggunaan bangunan-bangunan
umum.perniagaan,pendidikan,industri,kelembagaan,rumah tangga dan bangunan
yang diklasifikasi khusus (TNI,Otorita,Pemerintahan Pusat).
|
|
|
|
|
b.
|
Persyaratan Struktur Bangunan :
|
|
1.
|
Sistem Konstruksi untuk bangunan
satu lantai,bertingkat dan bangunan dengan konstruksi khusus ;
|
|
2.
|
Bahan Konstruksi dari
kayu,baja,beton dan sejenisnya :
|
|
3.
|
Ketahanan konstruksi terhadap
gempa,api,air dan cuaca.
|
|
|
|
|
c.
|
Perlengkapan Mekanikal dan
Elekrikal :
|
|
1.
|
Jaringan air bersih,air kotor
(black water) dan jaringan pembuangan air hujan ;
|
|
2.
|
Instalasi listrik dan
perlengkapannya ;
|
|
3.
|
Instalasi telekomunikasi/telepon ;
|
|
4.
|
Instalasi penangkal petir.
|
|
|
|
|
Hasil pelaksanaan peninjauan
lapangan sebagaiman yang dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Berita Acara
Peninjauan Lapangan (BAPL) yang merupakan sala satu lampiran rekomendasi ;
|
|
|
|
|
|
Dinas Tata Bangunan mengeluarkan
Rekomendasi maksimal 10 (sepuluh) hari kerja disampaikan kepada Kantor
Pelayanan Perizinan yang berisi mengenai terpenuhinya syarat tehnis untuk
diproses pemberian izinnya dan penetapan besarnya pungutan dan dasar
pengenaan retribusi daerah ;
|
|
|
|
|
|
Apabila dalam batas waktu yang
telah ditentukan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) tidak juga
mengeluarkan rekomendasi maka Kepala Dinas wajib menyampaikan secara tertulis
alasan-alasan sehingga rekomendasi tidak dikeluarkan ;
|
|
|
|
|
|
Rekomendsi sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) merupakan persyaratan penerbitan Izin Mendirikan Bangunan yang
berisi mengenai data dasar dan pengenaan retribusi daerah kepada yang
bersangkutan (pemohon).
|
|
|
|
|
|
Kantor Pelayanan Perizinan
menerima rekomendasi dan pengantar STS dari Dinas Tata Bangunan sebagaimana
dimaksud dalam dalam rangkap 3 (tiga) yang terdiri dari :
|
|
|
a.
|
rekomendasi asli sebagai arsip
Kantor Pelayanan Perizinan Kota Makassar.
|
|
b.
|
masing-masing salinan
rekomendasi,untuk :
|
|
1.
|
salinan pertama disampaikan kepada
pemohon;
|
|
2.
|
salinan kedua sebagai arsip pada
unit tehnis bersangkutan.
|
|
|
|
|
Kantor Pelayanan Perizinan
menyampaikan kepada pemohon melalui jasa Kantor Pos atau melalui telepon
bahwa berkas pemohon telah memenuhi syarat-syarat untuk diterbitkan izinnya
dan yang bersangkutan (pemohon) diundang untuk memenuhi kewajibannya;
|
|
|
|
|
|
Berdasarkan penyampaian tersebut
sebagaimana dimaksud, pemohon memenuhi kewajibannya dengan membayar biaya
izin dengan menyetorkannya kedalam rekening Pemekang Kas Daerah melalui loket
yang tersedia pada Kantor Pelayanan Perizinan;
|
|
|
|
|
|
Bukti Pembayaran izin sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dalam bentuk STS disampaikan kepada dinas tehnis
secara berkala.
|
|
|
|
|
|
Setelah pemohon menyelesaikan
kewajibannya dengan membayar biaya izin,maka izin asli disampaikan kepada
pemohon dalam tempo 1 x 24 jam (satu hari) dari tanggal penerimaan pelunasan
pembayaran kewajiban pemohon.
|
|
|
|
|
|
Izin sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diterbitkan dalam rangkap 4 (empat) untuk kepentingan :
|
|
|
a.
|
Asli untuk pemohon yang
bersangkutan;
|
|
b.
|
Salinan satu untuk dinas tehnis
yang bersangkutan;
|
|
c.
|
Salinan dua untuk Camat/Lurah yang
bersangkutan;
|
|
d.
|
Salinan tiga untuk arsip.
|
|
|
|
|
Proses penyelesaian Izin
Mendirikan Bangunan selambat-lambatnya dalam 12 (dua belas ) hari kerja
(ketentuan berkas telah dilengkapi pemohon)
|
|
Wednesday, October 10, 2012
Serial number Smadav pro 9.0 1
Serial Number Key Smadav 9.0.1 Pro 2012. Dibawah ini adalah beberapa serial number atau key dari smadav pro 9.0.1 yang sudah di uji coba dan bisa digunakan. Semoga Bermanfaat.
Name: MEGASOFT88.BLOGSPOT.COM
Key : 085800745146
Name: MEGASOFT88
Key : 085800806060
Name: REMIX-7
Key : 088800304292
sumber: http://remix-7.blogspot.com/2012/05/serial-number-key-smadav-901-pro-2012.html
Label:
Anti Virus
Friday, October 5, 2012
Vernacular Architecture Indonesia: Roles, Functions, and Preservation within communities
Pendahuluan
Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi [1]. Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara merupakan negara kepulauan terbesar didunia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, serta berbagai macam budaya dan etnik yang merupakan jati diri dari tiap-tiap daerah. Selain itu masing-masing daerah di Indonesia juga mempunyai satu atau beberapa tipe rumah tradisional yang unik yang dibangun berdasarkan tradisi-tradisi arsitektur vernakular dengan gaya bangunan tertentu yang menunjukkan keanekaragaman yang sangat menarik. Dan seiring dengan perjalanan waktu, tradisi dan gaya bangunan yang baru dan berbeda-beda akan muncul, akan tetapi dalam beberapa hal tradisi arsitektur vernakular masih dapat bertahan. Menurut Sonny Susanto, salah seorang dosen arsitek pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengatakan bahwa arsitektur vernakular merupakan bentuk perkembangan dari arsitektur tradisional, yang mana arsitektur tradisional masih sangat lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan kehidupan masyarakat, wawasan masyarakat serta tata laku yang berlaku pada kehidupan sehari-hari masyarakatnya secara umum [2].
Meskipun arsitektur tradisional berkembang, namun tetap mempertahankan karakter inti yang diturunkan dari generasi ke generasi yang menjadikannya sebagai karakter kuat akan suatu tempat tertentu dan akan tercermin pada tampilan arsitektur lingkungan masyarakat tersebut. Dalam perkembangannya, arsitektur vernakular mengalami banyak tekanan, baik dari dalam maupun dari luar, antara lain dari masyarakat industri barat yang menebarkan potensi dari teknologi modern dan bahan bangunan modern. Pada masa sekarang ini dimana modernisasi dan globalisasi demikian kuat mempengaruhi peri kehidupan dan kebudayaan setempat, suatu kondisi yang alami apabila suatu kebudayaan pasti akan mengalami perubahan kebudayaan setempat, namun perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang akan tetap memelihara karakter inti dan akan menyesuaikan dengan kondisi pada saat ini, sehingga akan dapat terus dipertahankan.
Peran dan Fungsi Arsitektur Vernakular
Di dalam konteks arsitektur, peran dan fungsi arsitektur vernakular menjadi penting bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di Asia, karena Asia terdiri dari berbagai macam budaya dan adat yang berlainan di berbagai wilayahnnya, dimana setiap wilayah memiliki ciri arsitektur yang spesifik dan berasal dari tradisi. Antara tradisi dan arsitektur vernakular sangat erat hubungannya. Tradisi memberikan suatu jaminan untuk melanjutkan kontinuitas akan tatanan sebuah arsitektur melalui sistem persepsi ruang, bentuk, dan konstruksi yang dipahami sebagai suatu warisan yang akan mengalami perubahan secara perlahan melalui suatu kebiasaan. Misalnya bagaimana adaptasi masyarakat lokal terhadap alam, yang memunculkan berbagai cara untuk menanggulangi, misalnya iklim dengan cara membuat suatu tempat bernaung untuk menghadapi iklim dan menyesuaikannya dengan lingkungan sekitar dan dengan memperhatikan potensi lokal seperti potensi udara, tanaman, material alam dan sebagainya, maka akan terciptalah suatu bangunan arsitektur rakyat yang menggunakan teknologi sederhana dan tepat guna. Kesederhanaan inilah yang merupakan nilai lebih sehingga tercipta bentuk khas dari arsitektur vernakular dan tradisional serta menunjukkan bagaimana menggunakan material secara wajar dan tidak berlebihan. Hasil karya ‘rakyat’ ini merefleksikan akan suatu masyarakat yang akrab dengan alamnya, kepercayaannya, dan norma-normanya dengan bijaksana.
Sejarah Arsitektur Vernakular
Di Indonesia, berbagai jenis rumah tradisional dianggap sebagai tradisi vernakular Indonesia dan dipercaya memiliki kesamaan asal muasal dari tradisi pembangunan kuno. Hal ini terutama dirujukkan pada tradisi arsitektur Austronesia yang dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ekspansi budaya Austronesia. Asal muasal dari tradisi arsitektur ini dapat dirunut kembali hingga budaya manusia kuno yang mendiami daerah pantai dan sungai-sungai Cina Selatan dan Vietnam Utara kurang lebih 4000 tahun SM. Pada masa itu, kelompok-kelompok masyarakat melakukan migrasi dan diperkirakan memiliki kesamaan tradisi arsitektur yang dinamai dengan tradisi arsitektur Austronesia, dan sebagai konsekuensinya, maka hampir di seluruh kepulauan Indonesia rumah tradisional yang merupakan warisan arsitektur vernakular memiliki kesamaan bentuk, baik dari bentuk bangunan serta dari bentuk morfologis struktur dasarnya.
Bentuk struktur dan fitur morfologis rumah-rumah tradisional Indonesia terdiri atas dua macam, yaitu rumah tradisional yang dibangun berdasarkan prinsip tipikal tradisi arsitektural Austronesia kuno yaitu: struktur kotak yang didirikan di atas tiang fondasi kayu, dapat ditanam kedalam tanah atau diletakkan di atas permukaan tanah dengan fondasi batu, lantai panggung, atap miring dengan jurai yang diperpanjang dan bagian depan atap yang condong mencuat keluar [3]. Sedangkan di bagian timur kepulauan Indonesia banyak tipe rumah tradisional digolongkan sebagai bagian dari tradisi arsitektur vernakular, dimana pada bentuk bangunannya biasanya memiliki: lantai berbentuk lingkaran dan berstruktur atap kerucut tinggi seperti bentuk sarang tawon atau struktur atap berbentuk kubah elips [4].
Rumah tradisional di seluruh kepulauan nusantara, baik yang berbentuk kotak maupun yang berstruktur atap kubah, biasanya dibangun dengan kayu dan material alami lainnya seperti bambu, daun palem, rumput, dan serat yang semuanya diambil langsung dari lingkungan alaminya. Selain itu, rumah dibangun oleh penghuninya sendiri atau masyarakat yang kadang dibantu oleh pengrajin terlatih atau dibawah petunjuk pengawas bangunan yang berpengalaman atau keduanya. Berbeda dengan konstruksi fisiknya, rumah tradisional di seluruh kepulauan nusantara memiliki kesamaan ciri dalam terminologi makna simbolik yang dikandung oleh rumah, dimana ukuran dan bentuk rumah mengindikasikan tingkat sosial dan status dari pemiliknya didalam masyarakat. Rumah juga sering dipandang sebagai tempat bersemayam nenek moyang dan digunakan sebagai tempat ritual dan upacara untuk menghormati mereka, dan juga digunakan saebgai tempat penyimpanan benda-benda pusaka nenek moyang. Ciri penting umum lainnya adalah penggunaan berbagai jenis oposisi polar dalam ruang, seperti depan dan belakang, timur dan barat, kiri dan kanan, serta dalam dan luar yang disesuaikan dengan pembedaan kelas diantara berbagai kelompok sosial masyarakat kesukuan secara umum.
Beberapa Kategori Tradisi Vernakular Arsitektur di Indonesia
Masyarakat yang mendiami daerah pedalaman, terutama di pegunungan mempunyai tradisi yang bila dilihat dari perspektif sejarah kebudayaannya dianggap lebih tua dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di dataran rendah atau area pantai. Bangunan tradisional yang dibangun oleh masyarakat yang tinggal dipedalaman dianggap memperlihatkan kemiripan yang lebih besar dengan tradisi arsitektural dan ragam bangunan Austronesia dan dengan tradisi yang tergambar di Candi Borobudur di Jawa Tengah daripada masyarakat yang tinggal di daerah dataran rendah dan di pantai. Rumah tradisional yang dibangun oleh masyarakat Toraja di Sulawesi selatan dan masyarakat Batak yang tinggal di Sumatra Utara dipandang sebagai bentuk rumah tradisional yang lekat dengan tradisi arsitektur vernakular dari nenek moyang mereka. Masyarakat Aceh di Sumatra Utara, masyarakat Baduy dan Tengger di Pulau Jawa, masyarakat Bali Aga (Bali Mula) di Bali, dan masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, serta beberapa masyarakat dikepulauan Indonesia Timur juga dianggap sebagai ‘masyarakat kuno’, akan tetapi, rumah tradisional mereka jika dari sudut pandang kebudayaan, sebenarnya termasuk dalam tradisi arsitektur asing yang muncul di kepulauan Indonesia yang merupakan bagian dari ekspansi Hindu-Buddha, Islam, dan Eropa.
Oleh karena itu, ada beberapa kategori tradisi vernakular arsitektur dan langggam bangunan Indonesia, yaitu:
• Rumah Batak
Rumah tradisional masyarakat Batak yang mendiami pedalaman pegunungan di sekitar Danau Toba dan di Pulau Samosir di Provinsi Sumatra Utara merupakan bentuk umum dan fitur tradisi arsitektur kuno di Indonesia. Masyarakat Batak terbagi atas enam keluarga besar, yang membangun rumah tradisional dan pengaturan rumah mereka dengan cara yang berbeda-beda tergantung pada pertanian yang mereka garap. Disamping itu, tradisi arsitektur vernakular Batak juga terdapat pada bangunan komunal (bale), lumbung padi (soro), serta bangunan untuk menggiling beras dan rumah untuk orang menyimpan jenazah (joro).
• Rumah Aceh
Rumah tradisional masyarakat Aceh merupakan sebuah contoh percampuran tradisi arsitektural dan langgam bangunan Austronesia dengan tradisi dan langgam bangunan masyarakat melayu. Bentuk luar rumah merupakan bentuk rumah Austronesia yaitu struktur tegak berupa tiang kayu, lantai yang ditinggikan sebagai ruang keluarga, dan bentuk atap pelana yang meruncing tinggi. Pembagian ruang dalam sama dengan rumah Melayu, yaitu lantai bagian yang berbeda berada diketinggian yang berbeda pula dan diatur secara berurutan. Ruang tidur yang terletak dibagian tengah rumah dengan lantai yang paling tinggi merupakan bagian yang paling penting, biasanya ditutupi dengan atap dan langit-langit dimana terdapat ruang yang digunakan untuk menyimpan benda-benda keramat, alat makan, dan pusaka. Didepan dan belakang terdapat beranda yang terletak diketinggian lantai yang lebih rendah, beranda depan digunakan untuk laki-laki dan menerima tamu, sedangkan beranda belakang digunakan untuk perempuan. Rumah tradisional Aceh biasanya disusun saling berhadapan sepanjang jalan yang membentang dari timur-barat. Hasilnya adalah rumah yang menghadap ke utara atau ke selatan.
• Rumah Bali
Warisan aritektur tradisional masyarakat Bali merupakan contoh percampuran antara bentuk dan fitur lama dan baru. Hal ini sebagian besar disebabkan dari sekelompok masyarakat elite migrasi Hindu-Buddha dari Jawa Timur untuk menghindari dominasi raja-raja islam. Karena kehadiran mereka yang lama dan dominasi politis serta pengaruh budaya maka tradisi arsitektural masyarakat yang lebih tua didaerah dataran rendah ikut berubah. Namun tradisi vernakular dan langgam bangunan kuno tetap dipraktikkan oleh masyarakat Aga yang mendiami daerah pedalaman dan pegunungan Bali. Dengan demikian, ada dua tipe rumah tradisional Bali, tipe rumah kelompok pemukiman masyarakat Bali yaitu percampuran bentuk tradisi antara fitur lama dan baru, yang kedua yaitu tipe rumah tradisional Bali Aga yang masih berpegang pada tradisi vernakular dan langggam bangunan kuno.
• Rumah Sasak
Masyarakat Sasak mendiami pulau Lombok dibagian timur dan selatan. Lain halnya dengan tradisi kultural Hindu-Buddha masyarakat Bali yang mendiami bagian barat pulau, kultur masyarakat sasak adalah sinkretis antara keimanan Islam dan kepercayaan serta praktik animistis. Merefleksikan hal ini, maka arsitektur rumah tradisional dan bangunan lain jelas mewakili percampuran antara tradisional Bali dan gaya tipikal bangunan Indonesia Timur. Adapun contoh bangunan yang dapat diklasifikasikan sebagai arsitektur vernakular yaitu rumah tradisional Sasak dan gudang padi atau lumbung. Jika dipandang dari luar, struktur atap rumah tradisional Sasak kelihatan sama dengan rumah tradisioanal tipe joglo yang dibangun masyarakat Jawa. Gudang atau tempat penyimpanan padi sangat serupa dengan beberapa jenis rumah tradisional yang ditemukan dibagian lain daerah Nusa Tenggara yang mengarah ke timur.
Bagaimana Melestarikannya
Karya arsitektur peninggalan masa lalu yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan Nusantara contohnya bangunan purbakala yaitu arsitektur candi/kuil sebagian besar sudah tidak difungsikan sebagaimana seharusnya, demikian halnya dengan bangunan peninggalan bangsa lain seperti Portugis, Belanda, apabila kondisi bangunan cukup baik, akan dimanfaatkan dengan fungsi baru. Sedangkan arsitektur etnik yang kebanyakan adalah rumah tinggal dan rumah adat sampai saat ini sebagian besar masyarakat setempat masih tetap membangun bangunan baru dengan gaya lama. Di beberapa tempat di Indonesia dalam empat puluh tahun terakhir ini, telah banyak usaha yang dilakukan untuk menghentikan kepunahan lebih lanjut rumah tradisional dan hilangnya tradisi arsitektur vernakular. Bangunan yang memiliki kepentingan sejarah dipelihara dan dilestarikan sebagai monumen. Sebagai tambahan, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) disana terdapat berbagai jenis model rumah tradisional. Di samping itu di beberapa daerah, bangunan pemerintah dirancang dengan menampilkan aspek yang paling mencolok atau paling umum di daerah tersebut, semuanya itu dilakukan untuk melestarikan tradisi dan warisan budaya serta kebanggaan akan identitas kedaerahan.
Kesimpulan
Di beberapa tempat di Kepulauan Indonesia, tradisi arsitektur vernakular tetap terus dipertahankan, sebagian besar tetap berlangsung kaku tanpa adanya modifikasi, sebagian lagi dibangun secara modern tetapi dengan menambahkan fitur dan tradisi arsitektur vernakular. Tradisi dan gaya arsitektur vernakular tetap penting bagi orang Indonesia karena berbagai alasan, kepentingan, maupun kegunaan. Untuk itu perlu dilakukan suatu upaya agar kepunahannya dapat dihentikan, di samping itu pelestariannya untuk generasi yang akan datang tergantung kepada besarnya kesadaran akan pentingnya tradisi dan nilai-nilai dari warisan budaya yang tak ternilai.
sumber: http://iaaipusat.wordpress.com/2012/03/19/arsitektur-vernakular-indonesia-peran-fungsi-dan-pelestarian-di-dalam-masyarakat/
Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error), menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi [1]. Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara merupakan negara kepulauan terbesar didunia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama, serta berbagai macam budaya dan etnik yang merupakan jati diri dari tiap-tiap daerah. Selain itu masing-masing daerah di Indonesia juga mempunyai satu atau beberapa tipe rumah tradisional yang unik yang dibangun berdasarkan tradisi-tradisi arsitektur vernakular dengan gaya bangunan tertentu yang menunjukkan keanekaragaman yang sangat menarik. Dan seiring dengan perjalanan waktu, tradisi dan gaya bangunan yang baru dan berbeda-beda akan muncul, akan tetapi dalam beberapa hal tradisi arsitektur vernakular masih dapat bertahan. Menurut Sonny Susanto, salah seorang dosen arsitek pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengatakan bahwa arsitektur vernakular merupakan bentuk perkembangan dari arsitektur tradisional, yang mana arsitektur tradisional masih sangat lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan kehidupan masyarakat, wawasan masyarakat serta tata laku yang berlaku pada kehidupan sehari-hari masyarakatnya secara umum [2].
Meskipun arsitektur tradisional berkembang, namun tetap mempertahankan karakter inti yang diturunkan dari generasi ke generasi yang menjadikannya sebagai karakter kuat akan suatu tempat tertentu dan akan tercermin pada tampilan arsitektur lingkungan masyarakat tersebut. Dalam perkembangannya, arsitektur vernakular mengalami banyak tekanan, baik dari dalam maupun dari luar, antara lain dari masyarakat industri barat yang menebarkan potensi dari teknologi modern dan bahan bangunan modern. Pada masa sekarang ini dimana modernisasi dan globalisasi demikian kuat mempengaruhi peri kehidupan dan kebudayaan setempat, suatu kondisi yang alami apabila suatu kebudayaan pasti akan mengalami perubahan kebudayaan setempat, namun perubahan yang diinginkan adalah perubahan yang akan tetap memelihara karakter inti dan akan menyesuaikan dengan kondisi pada saat ini, sehingga akan dapat terus dipertahankan.
Peran dan Fungsi Arsitektur Vernakular
Di dalam konteks arsitektur, peran dan fungsi arsitektur vernakular menjadi penting bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di Asia, karena Asia terdiri dari berbagai macam budaya dan adat yang berlainan di berbagai wilayahnnya, dimana setiap wilayah memiliki ciri arsitektur yang spesifik dan berasal dari tradisi. Antara tradisi dan arsitektur vernakular sangat erat hubungannya. Tradisi memberikan suatu jaminan untuk melanjutkan kontinuitas akan tatanan sebuah arsitektur melalui sistem persepsi ruang, bentuk, dan konstruksi yang dipahami sebagai suatu warisan yang akan mengalami perubahan secara perlahan melalui suatu kebiasaan. Misalnya bagaimana adaptasi masyarakat lokal terhadap alam, yang memunculkan berbagai cara untuk menanggulangi, misalnya iklim dengan cara membuat suatu tempat bernaung untuk menghadapi iklim dan menyesuaikannya dengan lingkungan sekitar dan dengan memperhatikan potensi lokal seperti potensi udara, tanaman, material alam dan sebagainya, maka akan terciptalah suatu bangunan arsitektur rakyat yang menggunakan teknologi sederhana dan tepat guna. Kesederhanaan inilah yang merupakan nilai lebih sehingga tercipta bentuk khas dari arsitektur vernakular dan tradisional serta menunjukkan bagaimana menggunakan material secara wajar dan tidak berlebihan. Hasil karya ‘rakyat’ ini merefleksikan akan suatu masyarakat yang akrab dengan alamnya, kepercayaannya, dan norma-normanya dengan bijaksana.
Sejarah Arsitektur Vernakular
Di Indonesia, berbagai jenis rumah tradisional dianggap sebagai tradisi vernakular Indonesia dan dipercaya memiliki kesamaan asal muasal dari tradisi pembangunan kuno. Hal ini terutama dirujukkan pada tradisi arsitektur Austronesia yang dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ekspansi budaya Austronesia. Asal muasal dari tradisi arsitektur ini dapat dirunut kembali hingga budaya manusia kuno yang mendiami daerah pantai dan sungai-sungai Cina Selatan dan Vietnam Utara kurang lebih 4000 tahun SM. Pada masa itu, kelompok-kelompok masyarakat melakukan migrasi dan diperkirakan memiliki kesamaan tradisi arsitektur yang dinamai dengan tradisi arsitektur Austronesia, dan sebagai konsekuensinya, maka hampir di seluruh kepulauan Indonesia rumah tradisional yang merupakan warisan arsitektur vernakular memiliki kesamaan bentuk, baik dari bentuk bangunan serta dari bentuk morfologis struktur dasarnya.
Bentuk struktur dan fitur morfologis rumah-rumah tradisional Indonesia terdiri atas dua macam, yaitu rumah tradisional yang dibangun berdasarkan prinsip tipikal tradisi arsitektural Austronesia kuno yaitu: struktur kotak yang didirikan di atas tiang fondasi kayu, dapat ditanam kedalam tanah atau diletakkan di atas permukaan tanah dengan fondasi batu, lantai panggung, atap miring dengan jurai yang diperpanjang dan bagian depan atap yang condong mencuat keluar [3]. Sedangkan di bagian timur kepulauan Indonesia banyak tipe rumah tradisional digolongkan sebagai bagian dari tradisi arsitektur vernakular, dimana pada bentuk bangunannya biasanya memiliki: lantai berbentuk lingkaran dan berstruktur atap kerucut tinggi seperti bentuk sarang tawon atau struktur atap berbentuk kubah elips [4].
Rumah tradisional di seluruh kepulauan nusantara, baik yang berbentuk kotak maupun yang berstruktur atap kubah, biasanya dibangun dengan kayu dan material alami lainnya seperti bambu, daun palem, rumput, dan serat yang semuanya diambil langsung dari lingkungan alaminya. Selain itu, rumah dibangun oleh penghuninya sendiri atau masyarakat yang kadang dibantu oleh pengrajin terlatih atau dibawah petunjuk pengawas bangunan yang berpengalaman atau keduanya. Berbeda dengan konstruksi fisiknya, rumah tradisional di seluruh kepulauan nusantara memiliki kesamaan ciri dalam terminologi makna simbolik yang dikandung oleh rumah, dimana ukuran dan bentuk rumah mengindikasikan tingkat sosial dan status dari pemiliknya didalam masyarakat. Rumah juga sering dipandang sebagai tempat bersemayam nenek moyang dan digunakan sebagai tempat ritual dan upacara untuk menghormati mereka, dan juga digunakan saebgai tempat penyimpanan benda-benda pusaka nenek moyang. Ciri penting umum lainnya adalah penggunaan berbagai jenis oposisi polar dalam ruang, seperti depan dan belakang, timur dan barat, kiri dan kanan, serta dalam dan luar yang disesuaikan dengan pembedaan kelas diantara berbagai kelompok sosial masyarakat kesukuan secara umum.
Beberapa Kategori Tradisi Vernakular Arsitektur di Indonesia
Masyarakat yang mendiami daerah pedalaman, terutama di pegunungan mempunyai tradisi yang bila dilihat dari perspektif sejarah kebudayaannya dianggap lebih tua dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di dataran rendah atau area pantai. Bangunan tradisional yang dibangun oleh masyarakat yang tinggal dipedalaman dianggap memperlihatkan kemiripan yang lebih besar dengan tradisi arsitektural dan ragam bangunan Austronesia dan dengan tradisi yang tergambar di Candi Borobudur di Jawa Tengah daripada masyarakat yang tinggal di daerah dataran rendah dan di pantai. Rumah tradisional yang dibangun oleh masyarakat Toraja di Sulawesi selatan dan masyarakat Batak yang tinggal di Sumatra Utara dipandang sebagai bentuk rumah tradisional yang lekat dengan tradisi arsitektur vernakular dari nenek moyang mereka. Masyarakat Aceh di Sumatra Utara, masyarakat Baduy dan Tengger di Pulau Jawa, masyarakat Bali Aga (Bali Mula) di Bali, dan masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan, serta beberapa masyarakat dikepulauan Indonesia Timur juga dianggap sebagai ‘masyarakat kuno’, akan tetapi, rumah tradisional mereka jika dari sudut pandang kebudayaan, sebenarnya termasuk dalam tradisi arsitektur asing yang muncul di kepulauan Indonesia yang merupakan bagian dari ekspansi Hindu-Buddha, Islam, dan Eropa.
Oleh karena itu, ada beberapa kategori tradisi vernakular arsitektur dan langggam bangunan Indonesia, yaitu:
- Bangunan tradisional yang dibangun berdasar tradisi kuno Austronesia
• Rumah Batak
Rumah tradisional masyarakat Batak yang mendiami pedalaman pegunungan di sekitar Danau Toba dan di Pulau Samosir di Provinsi Sumatra Utara merupakan bentuk umum dan fitur tradisi arsitektur kuno di Indonesia. Masyarakat Batak terbagi atas enam keluarga besar, yang membangun rumah tradisional dan pengaturan rumah mereka dengan cara yang berbeda-beda tergantung pada pertanian yang mereka garap. Disamping itu, tradisi arsitektur vernakular Batak juga terdapat pada bangunan komunal (bale), lumbung padi (soro), serta bangunan untuk menggiling beras dan rumah untuk orang menyimpan jenazah (joro).
- Bangunan tradisional yang dibangun berdasar percampuran
• Rumah Aceh
Rumah tradisional masyarakat Aceh merupakan sebuah contoh percampuran tradisi arsitektural dan langgam bangunan Austronesia dengan tradisi dan langgam bangunan masyarakat melayu. Bentuk luar rumah merupakan bentuk rumah Austronesia yaitu struktur tegak berupa tiang kayu, lantai yang ditinggikan sebagai ruang keluarga, dan bentuk atap pelana yang meruncing tinggi. Pembagian ruang dalam sama dengan rumah Melayu, yaitu lantai bagian yang berbeda berada diketinggian yang berbeda pula dan diatur secara berurutan. Ruang tidur yang terletak dibagian tengah rumah dengan lantai yang paling tinggi merupakan bagian yang paling penting, biasanya ditutupi dengan atap dan langit-langit dimana terdapat ruang yang digunakan untuk menyimpan benda-benda keramat, alat makan, dan pusaka. Didepan dan belakang terdapat beranda yang terletak diketinggian lantai yang lebih rendah, beranda depan digunakan untuk laki-laki dan menerima tamu, sedangkan beranda belakang digunakan untuk perempuan. Rumah tradisional Aceh biasanya disusun saling berhadapan sepanjang jalan yang membentang dari timur-barat. Hasilnya adalah rumah yang menghadap ke utara atau ke selatan.
- Bangunan tradisional yang dibangun berdasar transformasi
• Rumah Bali
Warisan aritektur tradisional masyarakat Bali merupakan contoh percampuran antara bentuk dan fitur lama dan baru. Hal ini sebagian besar disebabkan dari sekelompok masyarakat elite migrasi Hindu-Buddha dari Jawa Timur untuk menghindari dominasi raja-raja islam. Karena kehadiran mereka yang lama dan dominasi politis serta pengaruh budaya maka tradisi arsitektural masyarakat yang lebih tua didaerah dataran rendah ikut berubah. Namun tradisi vernakular dan langgam bangunan kuno tetap dipraktikkan oleh masyarakat Aga yang mendiami daerah pedalaman dan pegunungan Bali. Dengan demikian, ada dua tipe rumah tradisional Bali, tipe rumah kelompok pemukiman masyarakat Bali yaitu percampuran bentuk tradisi antara fitur lama dan baru, yang kedua yaitu tipe rumah tradisional Bali Aga yang masih berpegang pada tradisi vernakular dan langggam bangunan kuno.
- Tradisi arsitektur vernakular dan langgam bangunan Indonesia Timur.
• Rumah Sasak
Masyarakat Sasak mendiami pulau Lombok dibagian timur dan selatan. Lain halnya dengan tradisi kultural Hindu-Buddha masyarakat Bali yang mendiami bagian barat pulau, kultur masyarakat sasak adalah sinkretis antara keimanan Islam dan kepercayaan serta praktik animistis. Merefleksikan hal ini, maka arsitektur rumah tradisional dan bangunan lain jelas mewakili percampuran antara tradisional Bali dan gaya tipikal bangunan Indonesia Timur. Adapun contoh bangunan yang dapat diklasifikasikan sebagai arsitektur vernakular yaitu rumah tradisional Sasak dan gudang padi atau lumbung. Jika dipandang dari luar, struktur atap rumah tradisional Sasak kelihatan sama dengan rumah tradisioanal tipe joglo yang dibangun masyarakat Jawa. Gudang atau tempat penyimpanan padi sangat serupa dengan beberapa jenis rumah tradisional yang ditemukan dibagian lain daerah Nusa Tenggara yang mengarah ke timur.
Bagaimana Melestarikannya
Karya arsitektur peninggalan masa lalu yang tersebar di seluruh wilayah kepulauan Nusantara contohnya bangunan purbakala yaitu arsitektur candi/kuil sebagian besar sudah tidak difungsikan sebagaimana seharusnya, demikian halnya dengan bangunan peninggalan bangsa lain seperti Portugis, Belanda, apabila kondisi bangunan cukup baik, akan dimanfaatkan dengan fungsi baru. Sedangkan arsitektur etnik yang kebanyakan adalah rumah tinggal dan rumah adat sampai saat ini sebagian besar masyarakat setempat masih tetap membangun bangunan baru dengan gaya lama. Di beberapa tempat di Indonesia dalam empat puluh tahun terakhir ini, telah banyak usaha yang dilakukan untuk menghentikan kepunahan lebih lanjut rumah tradisional dan hilangnya tradisi arsitektur vernakular. Bangunan yang memiliki kepentingan sejarah dipelihara dan dilestarikan sebagai monumen. Sebagai tambahan, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) disana terdapat berbagai jenis model rumah tradisional. Di samping itu di beberapa daerah, bangunan pemerintah dirancang dengan menampilkan aspek yang paling mencolok atau paling umum di daerah tersebut, semuanya itu dilakukan untuk melestarikan tradisi dan warisan budaya serta kebanggaan akan identitas kedaerahan.
Kesimpulan
Di beberapa tempat di Kepulauan Indonesia, tradisi arsitektur vernakular tetap terus dipertahankan, sebagian besar tetap berlangsung kaku tanpa adanya modifikasi, sebagian lagi dibangun secara modern tetapi dengan menambahkan fitur dan tradisi arsitektur vernakular. Tradisi dan gaya arsitektur vernakular tetap penting bagi orang Indonesia karena berbagai alasan, kepentingan, maupun kegunaan. Untuk itu perlu dilakukan suatu upaya agar kepunahannya dapat dihentikan, di samping itu pelestariannya untuk generasi yang akan datang tergantung kepada besarnya kesadaran akan pentingnya tradisi dan nilai-nilai dari warisan budaya yang tak ternilai.
sumber: http://iaaipusat.wordpress.com/2012/03/19/arsitektur-vernakular-indonesia-peran-fungsi-dan-pelestarian-di-dalam-masyarakat/
Label:
Arsitektur
Saturday, February 11, 2012
Konsep Green Building
"lingkungan akan memberikan segala apa yang diiginkan dan
dibutuhkan manusia, apabila manusia mengerti, menghormati, dan
menyayanginya…". (Mc. Harg, Ian L., Design with Nature : 1967)
Pada umumnya, sebuah bangunan menyerap energi dari lingkungan secara paksa (misalnya melalui penebangan pohon maupun pembebanan tapak akibat building coverage). Sementara itu, keluarannya hanya berupa energi yang tidak terbarui; diantaranya air kotor, sampah rumah tangga maupun energi buangan akibat peralatan mekanis). Akibatnya, dapat terjadi penurunan kualitas lingkungan.

Green building merupakan konsep desain yang dapat membuat bangunan menjadi sebuah sarana/masukan energi bagi sistem lain; dimana keberadaannya mampu memperbaiki dan membangkitkan sistem di sekitarnya secara berkesinambungan. Hal ini berarti, bangunan itu tidak hanya merupakan produk hasil akhir, namun dapat mengolah keluaran energinya sehingga bermanfaat bagi sistem lain dalam lingkungan itu.

Sejalan dengan itu, konsep ini berkomitmen terhadap perancangan lingkungan binaan yang ramah lingkungan, baik di saat proses konstruksi maupun di masa purnahuni. Pendekatan green building terhadap komitmen ini ditempuh melalui beberapa cara, diantaranya perancangan tapak secara tepat; penghematan air; efisiensi penggunaan energi; pemilihan material; serta pengelolaan udara di dalam ruangan.


Konsep green building terintegrasi dengan konsep sustainable building; yaitu dengan meningkatkan efisiensi dari penggunaan semua sumberdaya energi melalui beberapa cara (Probo Hindarto : 2007), diantaranya :
Efisiensi penggunaan energi :

Efisiensi penggunaan lahan :

Inovasi pemaksimalan potensi hijau tanaman :

Efisiensi penggunaan material :
Penggunaan teknologi :
Manajemen limbah :
Dari segi estetika, filosofi GB adalah mengharmonisasikan bangunan
dengan lingkungan alamiahnya serta dengan berbagai sumberdaya di
sekeliling tapak. Kuncinya, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya,
adalah dengan menggunakan material dari sumberdaya lokal, mengurangi
beban tapak, dan menciptakan energi daur ulang di dalam tapak.


…kesadaran terhadap alam dan lingkungan adalah modal dasar dalam membangun peradaban dan menjaga masa depan dari kepunahan. Arsitek mempunyai kontribusi besar dalam melakukan sesuatu agar alam ini bisa lebih sustainable, tentunya dengan kapasitas dan kompetensi arsitekturnya… (Rachmat Fauzi, 2008)
sumber: http://2uatitik.wordpress.com/2010/01/23/green-building/
Pada umumnya, sebuah bangunan menyerap energi dari lingkungan secara paksa (misalnya melalui penebangan pohon maupun pembebanan tapak akibat building coverage). Sementara itu, keluarannya hanya berupa energi yang tidak terbarui; diantaranya air kotor, sampah rumah tangga maupun energi buangan akibat peralatan mekanis). Akibatnya, dapat terjadi penurunan kualitas lingkungan.
Green building merupakan konsep desain yang dapat membuat bangunan menjadi sebuah sarana/masukan energi bagi sistem lain; dimana keberadaannya mampu memperbaiki dan membangkitkan sistem di sekitarnya secara berkesinambungan. Hal ini berarti, bangunan itu tidak hanya merupakan produk hasil akhir, namun dapat mengolah keluaran energinya sehingga bermanfaat bagi sistem lain dalam lingkungan itu.
Sejalan dengan itu, konsep ini berkomitmen terhadap perancangan lingkungan binaan yang ramah lingkungan, baik di saat proses konstruksi maupun di masa purnahuni. Pendekatan green building terhadap komitmen ini ditempuh melalui beberapa cara, diantaranya perancangan tapak secara tepat; penghematan air; efisiensi penggunaan energi; pemilihan material; serta pengelolaan udara di dalam ruangan.
Konsep green building terintegrasi dengan konsep sustainable building; yaitu dengan meningkatkan efisiensi dari penggunaan semua sumberdaya energi melalui beberapa cara (Probo Hindarto : 2007), diantaranya :
- memanfaatkan terang langit dan pencahayaan alami sinar matahari untuk mengurangi penggunaan listrik di siang hari; maupun penggunaan panel surya
- penggunaan ventilasi serta penghawaan silang untuk mengurangi penggunaan AC
- memanfaatkan air hujan untuk keperluan domestik serta untuk mengurangi run-off rain water dengan penggunaan sumur resapan
- Penggunakan lahan secara efisien, kompak dan terpadu sehingga meminimalisasi building coverage
- Analisa tapak untuk mencari kendala dan potensi tapak serta pengaruhnya terhadap organisasi ruang
- Desain terbuka untuk mengintegrasikan luar dan dalam bangunan
- Menghargai kehadiran tanaman existing; tidak mudah menebang pohon, sehingga tanaman tersebut dapat menjadi bagian dari bangunan
- Penggunaan taman atap, taman gantung maupun pagar tanaman, maupun greenery wall
- Penggunaan material yang masih berlimpah dan menghindari penggunaan material yang langka/jarang ditemui
- Penggunaan material dari sumberdaya lokal untuk mengurangi mobilitas angkut material dari dan menuju tapak
- Memanfaatkan material sisa/recycle
- Memanfaatkan potensi energi alamiah untuk menghasilkan energi baru untuk keperluan domestik maupun bangunan lain secara independen misalnya dengan penggunaan panel surya
- Membuat sistem pengolahan limbah domestik seperti air kotor sehinga tidak membebani sistem aliran air kota
- Membuat sistem dekomposisi limbah organik agar terurai secara alami dalam lahan
…kesadaran terhadap alam dan lingkungan adalah modal dasar dalam membangun peradaban dan menjaga masa depan dari kepunahan. Arsitek mempunyai kontribusi besar dalam melakukan sesuatu agar alam ini bisa lebih sustainable, tentunya dengan kapasitas dan kompetensi arsitekturnya… (Rachmat Fauzi, 2008)
sumber: http://2uatitik.wordpress.com/2010/01/23/green-building/
Label:
Arsitektur
Tuesday, February 7, 2012
greeen architecture building
Perubahan iklim global (Global Warming) berpotensi menentukan arah perkembangan desain arsitektur pada tahun 2008, bahkan menjadi suatu kepedulian semua pihak, terutama para arsitek. Dengan demikian, arsitektur hijau (green architecture) dengan ciri bangunan gedung atau kawasan berkonsep ramah lingkungan yang sering disebut green building atau green development diperkirakan berkembang. Hal ini salah satu bentuk partisipasi para arsitek dalam upaya perbaikan iklim, peningkatan kawasan yang nyaman (comfort zone), dan pelestarian lingkungan.Dengan kata lain, arsitektur hijau dan semua hal yang mengedepankan sustainable architecture atau arsitektur yang berkelanjutan akan tetap mendominasi konsep arsitektur pada tahun depan dengan isu utama maksimalisasi penghijauan.
Sebenarnya apa itu green architecture??
Green architecture adalah sebuah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal. Dijaman sekarang jarang ada contoh bangunan yang menggunakan pendekatan green architecture. Kita mungkin perlu melihat balik pada arsitektur vernakuler yang banyak mendukung pendekatan green architecture. Namun perlu disadari bahwa mendesain bangunan dengan pendekatan greean architecture bukan berarti kembali kepada tradisi tersebut. Hanya sikap terhadap pemilihan material dan sumbernya saja dari pendekatan arsitektur vernakuler yang perlu diakomodasi di masa depan.
Analisis TS terhadap konsep dari green architecture
Pertumbuhan pembangunan dikota-kota besar seperti Jakarta mengakibatkan jumlah ruang hijau semakin berkurang, tampak di setiap sudut kota bangunan-bangunan tinggi menjulang. Sedangkan didaerah pinggiran kota pembangunan perumahan real estate telah merubah bentuk bentang alam dan hanya menyisakan sedikit area tanah untuk ruang terbuka hijau dan itupun hanya untuk sekedar pertimbangan visual estetika. Oleh sebab itu perlu adanya penerapan dari konsep-konsep dari green architecture.
berikut ini adalah konsep-konsep green architecture dari beberapa Negara di dunia:
1. Giant Eco-Egg skyscraper: aconceptual luxury hotel (USA) Green hotel masa depan di USA dengan bentuk seperti telur raksasa, bangunan ini akan beroperasi seperti organisme hidup. Dengan menerapkan system saluran udara langsung melalui angin dan konversi sistem atmospheric yang memungkinkan masuknya aliran udara alam ke bagian dalam bangunan tanpa intervensi mekanis.
2. Fukuoka Across (Jepang) Di kota Fukuoka, Jepang. Mereka memiliki sebuah bangunan yang disebut fukuoka across yang terlihat sangat berbeda dari dua sisi, satu sisi seperti sebuah bangunan kantor konvensional dengan dinding kaca, namun disisi lain terdapat atap yang besar dan bertingkat dengan sebuah taman. Teras taman tersebut mencapai 60 meter diatas tanah yang berisi 35.000 tanaman yang mewakili 76 spesies
3. Green Rings City of Gwanggyo (Seoul, Korea) Bangunan tersebut baru rancangan yang dibuat oleh grup arsitektur asal belanda yang akan dibangun di Seoul, Korea Selatan. Bangunan tersebut direncanakan menjadi swasembada kota bagi 77.000 jiwa penduduk korea. Dari semua elemen dari pusat kota akan di desain seperti cincin, dan “dengan mendorong cincin ini kearah luar, setiap bagian dari bangunanakan menerima teras untuk kehidupan diluar ruangan.
4. Green Hotel In Chinese Quarry (Shanghai, China) Bangunan ini mengunakan konsep dari arsitektur vernakuler yang merupakan pendekatan terhadap konsep green building yang dirancang guna mempercantik dan meminimalisasi dampak dari pemanasan global.
5. Edge Green Complex (Singapura) Bangunan ini menggabungkan Array dari solar sel dalam tembok luar gedung. Pita seperti canopies juga dititip dengan thin-film solar-cells. Bangunan tersebut akan mulai dibangun pada pangkal bangunan dan memunculkan ketinggian timur dan barat dari menara. Mereka akan membentuk sebuah rangkaian jalur hiasan pada jendela vertical. Ini akan menyaring sinar matahari dan akan mengubah menara ke dalam rangkaian yang terhubung secara vertikal dengan ruang hijau.
6. Gedung DPR/MPR (Jakarta, Indonesia) Meskipun masih diperbincangkan pembangunan gedung DPR/MPR yang baru karena memakan biaya sekitar Rp.1,168 Triliun rupiah. Konsep pembangunan tersebut telah melakukan pendekatan terhadap green building yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara di ibukota selain itu untuk memanfaatkan efisiensi lahan urug.
Let's Save Our Planet, for the common good. Because we are God's creatures who need each other to live..
1. Giant Eco-Egg skyscraper: aconceptual luxury hotel (USA) Green hotel masa depan di USA dengan bentuk seperti telur raksasa, bangunan ini akan beroperasi seperti organisme hidup. Dengan menerapkan system saluran udara langsung melalui angin dan konversi sistem atmospheric yang memungkinkan masuknya aliran udara alam ke bagian dalam bangunan tanpa intervensi mekanis.
2. Fukuoka Across (Jepang) Di kota Fukuoka, Jepang. Mereka memiliki sebuah bangunan yang disebut fukuoka across yang terlihat sangat berbeda dari dua sisi, satu sisi seperti sebuah bangunan kantor konvensional dengan dinding kaca, namun disisi lain terdapat atap yang besar dan bertingkat dengan sebuah taman. Teras taman tersebut mencapai 60 meter diatas tanah yang berisi 35.000 tanaman yang mewakili 76 spesies
3. Green Rings City of Gwanggyo (Seoul, Korea) Bangunan tersebut baru rancangan yang dibuat oleh grup arsitektur asal belanda yang akan dibangun di Seoul, Korea Selatan. Bangunan tersebut direncanakan menjadi swasembada kota bagi 77.000 jiwa penduduk korea. Dari semua elemen dari pusat kota akan di desain seperti cincin, dan “dengan mendorong cincin ini kearah luar, setiap bagian dari bangunanakan menerima teras untuk kehidupan diluar ruangan.
4. Green Hotel In Chinese Quarry (Shanghai, China) Bangunan ini mengunakan konsep dari arsitektur vernakuler yang merupakan pendekatan terhadap konsep green building yang dirancang guna mempercantik dan meminimalisasi dampak dari pemanasan global.
5. Edge Green Complex (Singapura) Bangunan ini menggabungkan Array dari solar sel dalam tembok luar gedung. Pita seperti canopies juga dititip dengan thin-film solar-cells. Bangunan tersebut akan mulai dibangun pada pangkal bangunan dan memunculkan ketinggian timur dan barat dari menara. Mereka akan membentuk sebuah rangkaian jalur hiasan pada jendela vertical. Ini akan menyaring sinar matahari dan akan mengubah menara ke dalam rangkaian yang terhubung secara vertikal dengan ruang hijau.
6. Gedung DPR/MPR (Jakarta, Indonesia) Meskipun masih diperbincangkan pembangunan gedung DPR/MPR yang baru karena memakan biaya sekitar Rp.1,168 Triliun rupiah. Konsep pembangunan tersebut telah melakukan pendekatan terhadap green building yang bertujuan untuk mengurangi polusi udara di ibukota selain itu untuk memanfaatkan efisiensi lahan urug.
Let's Save Our Planet, for the common good. Because we are God's creatures who need each other to live..
Label:
Arsitektur
Subscribe to:
Posts (Atom)





